Namunjika ada yang mengatakan bahwa hal itu kok dipermasalahkan, maka berkacalah kepada firman Allah berikut. "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." (QS An Nur 63). Dan kita sudah tahu bahwa sabda Nabi bukanlah berdasarkan kepada hawa nafsunya semata.
1 Menyekutukan Allah SWT. Orang musyrik adalah orang yang menyekutukan Allah. Orang-orang seperti ini tempatnya adalah neraka. Dalam surat Al Maidah ayat 72 Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.
Golonganorang-orang yang mendapat nikmat (hidayah) dari Allah. Golongan orang-orang yang dimurkai. Golongan orang-orang yang tersesat. Penutup. Pemberian hidayah merupakan hak prerogatif Allah yang tidak dimiliki oleh selain-Nya, hal ini berdasarkan banyak ayat dalam al-Qur'an, seperti yang termaktub dalam surat Fatir yang berbunyi:
Allahmemberikan hidup sejati dan kekal kepada mereka yang tekun berbuat baik untuk mendapatkan yang mulia, yang terhormat dan yang abadi. 2:8: Tetapi orang-orang yang mementingkan diri sendiri dan tidak mau taat kepada Allah, melainkan mengikuti yang jahat, orang-orang itu akan sangat dimurkai Allah. 2:9: Setiap orang yang suka berbuat jahat
. Menyebut perkataan laknat bunyinya agak kasar. Namun perkataan laknat ada disebut di dalam al-Quran. Dari sudut bahasa, laknat bermaksud kemurkaan Allah dan jauh dari rahmat dan petunjukNya. Bahkan sesetengah ulama berkata, semua perbuatan yang dilaknat Allah termasuk dalam dosa besar. Siapakah 10 golongan yang dilaknat oleh Allah Taala dan Rasul? Pertamanya adalah iblis. Cerita tentang iblis yang enggan tunduk menyembah Nabi Adam as ada diceritakan dalam surah Al Baqarah ayat 34. Kerana kesombongannya, Iblis yang dahulunya penghuni syurga dicampak keluar dari syurga. Walau pun begitu kesombongan iblis tidak terpadam sama sekali hingga dilaknat oleh Allah. 1 Iblis Firman Allah- قَالَ لَمْ أَكُنْ لأسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ * قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ * وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ Berkata Iblis “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. Allah berfirman “Keluarlah kamu dari syurga kerana sesungguhnya kamu adalah terlaknat. Dan sesungguhnya laknat itu tetap menimpamu sampai hari kiamat” Al-Hijr 33-35 2 Orang zalim yang berdusta atas nama Allah Firman Allah- وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الأشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah bahawa laknat Allah akan ditimpakan atas orang-orang yang zalim” Huud 18. 3 Orang Yang Menyakiti Allah dan Rasul-Nya Firman Allah- إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” Al-Ahzaab 57 4 Orang yang Menyembunyikan Ilmu Firman Allah- إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ * إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat olih Allah dan dilaknat pula oleh semua makhluk yang dapat melaknat kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan kebenaran. Maka terhadap mereka itu, Aku menerima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” Al-Baqarah 159-160. 5 Orang yang Menuduh Wanita Baik-Baik Telah Berzina Tanpa Bukti Firman Allah- إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik lagi beriman dengan berbuat zina, mereka akan kena laknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka azab yang besar” An-Nur 23 6 Orang yang Membunuh Seorang Islam dengan Sengaja Firman Allah- وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah neraka Jahanam. Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatinya, serta menyediakan azab yang besar baginya” An-Nisaa’ 93 7 Pemakan Rasuah عن عبد الله بن عمرو قال لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم الراشي والمرتشي Dari Abdullah bin Amr ia berkata “Rasulullah saw telah melaknat orang yang memberi dan menerima rasuah.” Hadith Tirmizi 8 Isteri yang Menolak Ajakan Suaminya عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا دَعَا اَلرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيءَ , لَعَنَتْهَا اَلْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ Dari Abu Hurairah dari Nabi saw baginda bersabda “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, namun isteri itu menolak untuk datang maka para malaikat melaknatnya hingga waktu subuh”.Hadith Bukhari 9 Wanita yang Mendedahkan Aurat عن عبد الله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول سيكون آخر أمتي نساء كاسيات عاريات على رؤوسهن كأسنمة البخت إلعنوهن فإنهن ملعونات Dari Abdullah bin Umar ia berkata Aku mendengar Rasulullah saw bersabda “Pada akhir umatku kelak akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun hakikatnya telanjang. Di atas kepala mereka terdapat bonjol seperti belakang unta. Laknatlah mereka semua kerana sesungguhnya mereka adalah terlaknat” Hadith Tabarani 10 Laki-Laki yang Menyerupai Wanita dan Wanita yang Menyerupai Laki-Laki عن ابن عباس رضي الله عنهما قال لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المشتبهين من الرجال بالنساء والمشتبهات من النساء بالرجال. Dari Ibnu Abbaas ia berkata “Rasulullah saw melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” Hadith Bukhari
۞ أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ تَوَلَّوْا۟ قَوْمًا غَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مَّا هُم مِّنكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى ٱلْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ Arab-Latin A lam tara ilallażīna tawallau qauman gaḍiballāhu 'alaihim, mā hum mingkum wa lā min-hum wa yaḥlifụna 'alal-każibi wa hum ya'lamụnArtinya Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan pula dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Al-Mujadalah 13 ✵ Al-Mujadalah 15 »Mau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarangPelajaran Berharga Berkaitan Dengan Surat Al-Mujadalah Ayat 14 Paragraf di atas merupakan Surat Al-Mujadalah Ayat 14 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada beraneka pelajaran berharga dari ayat ini. Didapati beraneka penjabaran dari berbagai ulama tafsir terhadap kandungan surat Al-Mujadalah ayat 14, misalnya seperti tertera📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi ArabiaApakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang mengangkat orang-orang Yahudi sebagai teman dan memberikan loyalitasnya kepada mereka? Pada hakikatnya orang-orang munafik tidak termasuk orang-orang beriman dan tidak pula termasuk orang-orang Yahudi. Mereka bersumpah secara dusta bahwa mereka adalah kaum Muslimin dan bahwa kamu adalah Rasulullah, padahal mereka tahu bahwa mereka dusta dalam sumpah mereka tersebut.📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid Imam Masjidil Haram14. Tidaklah kamu melihat -wahai Rasul- kepada orang-orang munafik yang berteman dengan orang-orang Yahudi yang telah dimurkai Allah dikarenakan kekufuran dan kemaksiatan mereka. Orang-orang munafik itu bukan bagian dari orang-orang yang beriman, dan mereka juga bukan bagian dari orang-orang Yahudi, akan tetapi mereka itu dalam keraguan, tidak bersama golongan Mukmin dan tidak pula bersama golongan Yahudi. Dan orang-orang munafik itu bersumpah bahwa mereka adalah orang-orang Muslim, dan bahwa mereka tidak membocorkan berita tentang kaum muslimin kepada orang-orang Yahudi, padahal sungguh mereka berdusta dengan sumpah mereka itu.📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah14-15. Hai Rasulullah, tidakkah kamu melihat dan terheran dari orang-orang munafik yang menjadikan orang-orang Yahudi sebagai penolong? Orang-orang munafik itu bukanlah termasuk kaum muslimin, dan bukan pula termasuk orang-orang Yahudi; namun mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka termasuk kaum muslimin dan mengakui risalah Nabi Muhammad; padahal mereka sadar bahwa mereka sedang berdusta. Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi mereka, sungguh buruk apa yang mereka dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah14. أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا۟ قَوْمًا Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum sebagai teman? Yakni menjadikan mereka sekutu. Yang dimaksud adalah orang-orang munafik yang bersekutu dengan orang-orang Yahudi. غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِمdari kaum yang dimurkai Allah Yakni orang-orang Yahudi. مَّا هُم مِّنكُمْ وَلَا مِنْهُمْorang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan pula dari golongan mereka Sebagaimana yang Allah firmankan tentang mereka مذبذبين بين ذلك لا إلى هؤلاء ولا إلى هؤلاء Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian iman atau kafir tidak masuk kepada golongan ini orang-orang beriman dan tidak pula kepada golongan itu orang-orang kafir. An-Nisa'143 Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi, yakni Allah berfirman kepada orang-orang beriman “orang-orang Yahudi bukan termasuk golongan kalian dan bukan pula golongan orang-orang munafik. Lalu mengapa mereka tidak dijadikan sekutu oleh orang-orang munafik.” وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِDan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan Yakni mereka bersumpah bahwa mereka adalah orang-orang beriman, atau mereka bersumpah bahwa mereka tidak membocorkan berita kepada orang-orang Yahudi. وَهُمْ يَعْلَمُونَsedang mereka mengetahui Yakni mereka mengetahui kebatilan apa yang mereka sumpahkan, dan mengetahui bahwa hal itu hanyalah kebohongan.📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah14. Wahai Nabi, apakah engkau tidak memperhatikan dan heran terhadap orang-orang munafik itu, Mereka kaum Yahudi telah menjadikan kaum yang dibenci Allah, sebagai sahabat mereka. Bukan dari golonganmu, juga bukan dari golongan mereka, namun mereka adalah golongan yang tidak jelas antara golonganmu atau golongan Yahudi. Mereka saling beraliansi dalam kedustaan, yaitu berencana mengagresi Islam dan orang mukmin. Sebenarnya mereka-pun tahu bahwa mereka adalah pendusta dalam kaitannya dengan aliansi yang mereka lakukan. Muqatil dan Siddi berkata Kami mendapat informasi bahwa ayat ini turun untuk Abdullah bin Nabtal, orang munafik. Sebelumnya dia berbincang dengan Nabi, namun kemudian menyampaikan pembicaraan itu kepada kaum Yahudi. Kemudian rasul memperingatkannya, rasul akan memohon pertolongan Allah atas perbuatannya. Maka turunlah ayat ini📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Awaji, professor tafsir Univ Islam MadinahApakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menjadikan sahabat suatu kaum yang dimurkai Allah} orang-orang munafik yang menjadikan teman orang-orang Yahudi dan menyampaikan kepada mereka tentang rahasia-rahasia orang-orang mukmin {Orang-orang itu bukan dari kalian dan bukan dari mereka. Mereka bersumpah palsu, padahal mereka mengetahuinyaMau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H14-15. Allah mengabarkan tentang kejinya kondisi orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta lainnya yang dimurkai Allah sebagai pemimpin, padahal mereka itu mendapatkan laknat Allah secara sempurna; mereka bukan orang yang beriman dan bukan pula orang kafir, “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian iman atau kafir tidak masuk kepada golongan ini orang-orang beriman dan tidak pula kepada golongan itu orang-orang kafir,” -An-Nisa 143- Mereka bukan orang Mukmin lahir batin, karena secara lahir mereka bersama orang-orang Mukmin, itulah sifat mereka yang disebutkan Allah, padahal sebenarnya mereka bersumpah atas kebalikannya, yaitu mendustakan. Mereka bersumpah sebagai orang Mukmin padahal sebenarnya mereka bukan orang Mukmin. Karena itu, balasan orang-orang penghianat, keji dan pendusta itu adalah siksa keras yang telah disediakan Allah untuk mereka yang ukuran dan sifatnya tidak diketahui oleh manusia. “Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan,” karena mereka melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah dan mewajibkan mereka mendapatkan siksa dan laknat.📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-SyawiSurat Al-Mujadalah ayat 14 Bukankah engkau melihat wahai Nabi Allah kepada mereka orang-orang munafiq menjadikan orang-orang kafir yahudi dan nashrani dan selainnya sebagai temannya, yang mereka ini Allah murkai karena sebab kekufuran dan kemaksiatan mereka. Maka ketahuilah bahwa orang-orang munafiq ini bukanlah termasuk bagian dari orang-orang muslim, tidak juga mereka dari yahudi. Allah bersumpah dengan kebohongan mereka bahwasanya mereka telah mengaku sebagai orang islam, dan sunggah engkau adalah Rasul utusan Allah.📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang buruknya keadaan kaum munafik yang berwala’ memberikan sikap cinta dan setia kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka sebagai sahabat, baik mereka itu orang-orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala murkai. Mereka memperoleh laknat Allah dan bersikap ragu-ragu antara beriman atau kafir. Mereka bukan orang-orang mukmin baik zhahir luar maupun batin dalam karena batin mereka bersama orang-orang kafir, dan bukan pula orang-orang kafir baik zhahir maupun batin karena zhahir mereka bersama kaum mukmin. Inilah sifat mereka yang telah disebutkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, mereka bersumpah dengan sumpah yang berlawanan dengan keadaan mereka, yaitu bahwa mereka adalah orang-orang mukmin, padahal mereka mengetahui bahwa mereka bukan orang-orang mukmin. Maka balasan terhadap mereka yang berkhianat itu yang fasik lagi berdusta adalah Allah siapkan untuk mereka azab yang pedih. Mereka mengerjakan perbuatan yang mendatangkan kemurkaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, mendatangkan hukuman dan laknat-Nya. Yaitu orang-orang Yahudi. Yaitu orang-orang mukmin. Yaitu orang-orang Yahudi. Imam Ahmad di juz 1 hal. 240 meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Akan masuk menemui kamu seorang yang melihat dengan satu mata setan atau kedua mata setan.” Lalu ada seorang yang biru matanya dan berkata, “Wahai Muhammad! Atas dasar apa engkau engkau memakiku atau mencelaku.” atau semisalnya. Ibnu Abbas berkata, “Ia pun bersumpah, dan turunlah ayat ini yang ada di surah Al Mujaadilah, “Dan mereka bersumpah atas kebohongan,” dan ayat yang lain. Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa’id, “Diriwayatkan oleh Ahmad, Al Bazzar dan para perawi semuanya adalah para perawi hadits shahih, namun di sana disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang berkata kepada orang itu, “Atas dasar apa engkau dan kawanmu memakiku.” Syaikh Muqbil menjelaskan, bahwa inilah yang disebutkan dalam Musnad di halaman 267 dan 350. Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Hakim dalam Mustadrak juz 2 hal. 482, ia berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, namun keduanya Bukhari dan Muslim tidak menyebutkannya.”. Ibnu Jarir di juz 10 hal. 185 dan Asy Syaukaani di juz 2 hal. 384 menyandarkannya kepada Thabrani, Abusy Syaikh dan Ibnu Mardawaih dari hadits Ibnu Abbas yang sama dengan hadits di atas, namun di sana disebutkan, dan turunlah ayat, “Wa yahlifuuna billahi maa qaaluu…dst” At Taubah 74 Syaikh Muqbil menjelaskan, bisa saja kedua ayat itu turun bersamaan karena satu sebab atau bisa juga karena mudhtrarib goncangnya Sammak bin Harb, karena ia seorang yang goncang haditsnya terlebih setelah tuanya, wallahu a’lam. Sedangkan ayat yang turun di surah Al Mujaadilah lebih kuat karena yang meriwayatkan darinya adalah Syu’bah, dan ia sudah mendengar sejak lama sebagaimana disebutkan dalam Tahdzibut Tahdzib. Bahwa mereka beriman. Bahwa mereka berdusta dalam ucapan dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Mujadalah Ayat 14Pada ayat sebelumnya diterangkan kebiasaan orang-orang beriman yang akan menghadap rasulullah, yaitu bersedekah kepada kaum duafa sebelum menghadap nabi. Pada ayat ini diterangkan kebiasaan orang-orang munafik yang menyembunyikan kekafiran dalam memperlakukan nabi dan larangan berteman akrab dengan orang-orang yang memusuhi islam. Apakah engkau Muhammad, tidak memperhatikan orang-orang munafik di madinah yang secara lisan menyatakan beriman kepada engkau, tetapi faktanya mereka adalah orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah, yaitu kaum yahudi di madinah, sebagai sahabat' orang-orang munafik itu bukan dari kaum kamu, yakni orang-orang beriman yang benar sebagaimana pengakuan mereka. Orang-orang munafik mengaku beriman untuk mengambil hati orang-orang beriman saja; dan bukan dari kaum mereka, golongan yahudi yang benar. Mereka mengaku yahudi untuk memperoleh perlindungan dari yahudi. Dan mereka, orang-orang munafik itu tidak segan-segan bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa mereka beriman kepada Allah dan rasul-Nya, padahal sumpah mereka itu atas kebohongan, yakni bersumpah beriman, padahal tidak beriman; sedangkan mereka, orang-orang munafik itu, mengetahui kebohongan-Nya. 15. Allah telah menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka, orang-orang munafik, yaitu berada di dalam kerak neraka. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan di dunia, yaitu menipu Allah, rasulullah, dan orang-orang beriman, padahal hakikatnya mereka menipu diri mereka dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang Itulah beragam penjelasan dari kalangan mufassirun terhadap isi dan arti surat Al-Mujadalah ayat 14 arab-latin dan artinya, moga-moga menambah kebaikan untuk ummat. Dukung dakwah kami dengan mencantumkan backlink menuju halaman ini atau menuju halaman depan Artikel Paling Banyak Dikunjungi Nikmati ratusan konten yang paling banyak dikunjungi, seperti surat/ayat An-Nisa 29, An-Nisa 146, An-Nur 26, Al-Baqarah 152, Al-Jumu’ah 10, Al-Anfal. Termasuk Ali Imran 110, Thaha, Al-Jatsiyah, Al-Baqarah 168, Al-Insyirah 6, Al-Ahzab 56. An-Nisa 29An-Nisa 146An-Nur 26Al-Baqarah 152Al-Jumu’ah 10Al-AnfalAli Imran 110ThahaAl-JatsiyahAl-Baqarah 168Al-Insyirah 6Al-Ahzab 56 Pencarian qs. yunus [10] 101, surah ali imran ayat 180, surah al baqarah ayat 235, albaqarah 246, surat ali imran ayat 36 Dapatkan amal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat. Plus dapatkan bonus buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" secara 100% free, 100% gratis Caranya, salin text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga 3 group WhatsApp yang Anda ikuti Silahkan nikmati kemudahan dari Allah Ta’ala untuk membaca al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik surat yang mau dibaca, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar tafsir lengkap untuk ayat tersebut 🔗 *Mari beramal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat ini* Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol "Dapatkan Bonus" di bawah
Parmi les grands péchés en Islam, l’orgueil y tient une place de choix, le Prophète sallAllahou alayhi wa salam a dit N’entrera pas au Paradis quiconque a un atome d’orgueil dans son cœur ». L’orgueil le kibr qu’est ce que c’est ? L’orgueil le kibr en arabe est une opinion très exagérée qu’on a sur soi-même, c’est une sur-estimation non justifiée de sa valeur personnelle, à la différence de la confiance en soi et du sentiment de fierté qui ne procurent pas le besoin de rabaisser les autres personnes, L’orgueil se manifeste par le complexe de supériorité et le besoin d’être reconnu par autrui pour exister. C’est quoi un homme orgueilleux ? Un homme orgueilleux est une personne qui a une fierté légitime d’elle-même, un amour-propre excessif et qui aime se vanter et remettre la faute sur le dos des autres sans se remettre en question. Comment savoir si l’on est orgueilleux ? L’homme orgueilleux est fier de lui-même et méprisant pour les autres, il aime montrer sa richesse en adoptant une attitude hautaine et refuse généralement d’admettre ses erreurs. Mais ce qui caractérise l’orgueilleux, c’est le dédain qu’il éprouve pour les faibles ou les pauvres parmi les musulmans. Dans le Coran, de nombreuses sourates parlent d’orgueil. Allah Soubhana wa ta’ala dit Moussa lui dit “Je cherche auprès de mon Seigneur et le Vôtre, protection contre tout orgueilleux qui ne croit pas au jour du compte” » Sourate 40, Verset 27. Et votre Seigneur dit “Appelez-Moi, Je vous répondrai. Ceux qui, par orgueil, se refusent à M’adorer entreront bientôt dans l’Enfer, humiliés” ». Sourate Al-Ghafir 60. C’est le Kibr propre à Iblis et au Pharaon et de tous ceux qui par orgueil nient la foi et qu’Allah décrit en disant Est-ce qu’à chaque fois, qu’un Messager vous apportait des vérités contraires à vos souhaits vous vous enfliez d’orgueil ? Vous traitiez les uns d’imposteurs et vous tuiez les autres ». sourate Al-Baqara 87. Car celui dont le cœur possède ne serait-ce que la moitié d’un grain de moutarde d’orgueil ne peut prétendre au Paradis comme en atteste ce hadith authentique rapporté par Muslim, Abû Dawud et At-Tirmidhi sur l’autorité d’Ibn Mas’ud. Quiconque possède la moitié d’un grain de moutarde d’orgueil kibr dans le cœur n’entrera pas au Paradis. Et quiconque possède la moitié d’un grain de moutarde de foi n’entrera pas au Feu éternel ». L’orgueil en islam quelles conséquences ? Etre orgueilleux implique que l’on s’oppose ouvertement à la foi et que le cœur n’agira pas selon ce qu’Allah a prescrit, ni ne s’abstiendra de ce qu’Il a interdit. Nous pouvons à tout moment perdre ce que nous possédons si Allah le désire et nous retrouver totalement impuissants. L’humilité ne concerne pas seulement nos relations avec nos frères musulmans, elle est conseillée à tout moment et avec tout le monde. D’après Iyyadh Ibn Himar rra, le Messager d’Allah saws a dit Allah m’a révélé de vous ordonner l’humilité, afin que nul ne méprise un autre, et que nul n’opprime un autre. » Rapporté par Muslim L’arrogance envers un non musulman peut lui donner une image négative de l’Islam tout comme se vanter de sa foi est une forme d’orgueil proscrit par Allah soubhana wa ta’ala. Ne vantez pas vous-mêmes votre pureté ; c’est Lui qui connaît mieux ceux qui Le craignent » Sourate 53, verset 32. Personne n’est à l’abri d’un mauvais comportement, de péchés plus ou moins graves, mais il incombe à chacun de nous de rester vigilant. Pour améliorer et lutter contre ce nafs » qui peut nous conduire au pire comme au meilleur. N’ayons pas peur de nous remettre en question, et de nous repentir de nos fautes, car la générosité de la miséricorde et du pardon d’Allah le Très-Haut est illimitée. Dis Ô Mes serviteurs, qui avez commis des excès à votre propre détriment, ne désespérez pas de la miséricorde d’Allah. Car Allah pardonne tous les péchés. Oui, c’est Lui le Pardonneur, le Très Miséricordieux ». » Sourate Az-Zoumar, verset 53. Vanter ses mérites se retrouve sous 4 formes Le fait de vanter ses mérites se retrouve sous quatre formes 1. La première lorsque la personne veut énumérer les bienfaits qu’Allah soubhannou wa ta’ala lui a octroyé tels que la piété et la foi. 2. La deuxième lorsque la personne veut encourager ses frères à faire comme elle. Ces deux cas sont recommandés car l’intention est bonne. 3. La troisième lorsque la personne vante ses mérites, s’enorgueillit et rappelle avec insistance son degré de croyance et de piété. 4. La quatrième lorsque la personne veut simplement informer les gens sur son degré de foi. Il est essentiel que le musulman fasse l’effort sur le corps aussi bien que sur le cœur. L’orgueil est un danger pour l’Islam car il conduit à la méfiance et oblige à rejeter la vérité par arrogance. Ainsi, le vaniteux se croit au-dessus des autres et tente d’écraser les plus faibles à cause de ce sentiment de supériorité. L’orgueil et l’amour des belles choses Beaucoup se questionnent sur leurs agissements et se demandent s’ils ne tombent pas dans l’orgueil en aimant les belles choses, les beaux vêtements, par exemple. Le sujet fut abordé par les nobles Compagnons et ils reçurent une réponse très claire de notre Messager, que la Paix et le Salut soient sur lui, en ces termes ô Messager d’Allah! Un homme aime avoir de beaux vêtements et chaussures. Est-ce inclus dans le kibr ? » Il a répondu Non. Allah est Beau et Il aime la Beauté. Al-Kibr c’est le rejet de vérité Batrul-Haqq et le mépris des gens waa ghamtun-nas. » Prendre soin de soi-même ne fait pas partie de l’orgueil. La Sunna de notre bien-aimé nous enjoint de prêter attention à notre apparence et à la beauté des choses en général, mais il y a un risque à ne pas nier pour l’éviter. C’est un premier pas vers l’orgueil la ghafla, c’est-à-dire la distraction qui nous attend à force de contempler son nombril. Dans les sociétés actuelles, la recherche de la beauté et le culte de l’apparence conduisent encore des générations entières à l’individualisme. Peu à peu, l’estime légitime de soi est mal comprise et se traduit par l’amour de soi, qui est poussé chaque jour un peu plus loin jusqu’à l’extrême l’orgueil. L’humilité comme remède A travers le Coran, la guérison des cœurs, Allah nous rappelle Sa Grandeur et nous révèle comment porter un regard plus important sur le contenu de nos poitrines. Les histoires de nos prophètes avec leurs fils, avec leur peuple ou leur ennemi sont des exemples d’humilité que nous devons méditer. La prière, cinq fois par jour, est un témoignage d’humilité sincère envers notre Créateur. Les invocations sont des moments intimes de recueillement pour puiser dans notre foi et nous initier à une grande humilité envers Dieu et le monde. L’humilité n’est pas faiblesse. C’est la force de se contenir. Le poids du dos de ceux qui s’humilient en équilibrant l’amour et la peur de leur Seigneur ne se plie pas par faiblesse. Il sent le poids du regard de son Créateur qui le saisit à chaque instant. Et il devient plus humble avec ses pairs qu’il respecte, dont il accepte les conseils et pardonne les erreurs. Là où le malheureux se gonflera de croire en sa noblesse d’âme, d’esprit ou de lignée, le vertueux, que nous espérons tous devenir, se remettra en question pour vivre en harmonie avec ceux qui, comme lui, composent la terre. Il ne perd pas patience, en touchant son ego. Il est serein. Celui qui veut réussir sur terre et au-delà ne se récompense pas en écrasant ceux qu’il croit faibles. Il voit mieux que lui-même en chacun et marche comme un disciple et non comme un maître, comme nous le montre cette parole du prophète Mahomet, que la paix et le salut soient sur lui Le bonheur sera accordé à celui qui se montre humble sans manque de respect, dépense de son bien acquis licitement, … et fais miséricorde aux humbles et aux mesquins. … » Rapporté dans Boukhari Et s’il vient à se tromper, il ne reste pas figé sur sa position. Il accepte de revenir repentant vers Allah et corrige ses manquements comme Le Très Haut nous le montre en Ses versets Repousse le mal par ce qui est meilleur et voilà que celui avec qui tu avais une animosité devient tel un ami chaleureux. » Sourate 41 Fussilat, Verset 35 L’ostentation et l’orgueil Intimement liée à l’orgueil, à la suffisance et à la vanité, l’ostentation en Islam est l’un des péchés les plus combattus dans l’Islam. De nombreux textes du Coran et de la Sunna mettent en garde contre ce fléau, qui a pris des proportions inconsidérées ces dernières années. L’amour du prestige et de la célébrité dans les cœurs a remplacé les œuvres pieuses qui sont la responsabilité de chaque musulman. L’ostentation en Islam Ar Riyâ consiste à mettre en avant une qualité ou un avantage, une attitude qui semble malheureusement avoir été adoptée par beaucoup d’entre nous. A l’heure de la surconsommation et des modes qui nous poussent à prendre nos désirs pour des besoins, nous sommes de plus en plus enclins à vouloir paraître plutôt qu’être ! Insidieux, ce péché a la particularité de ne pas prévenir lorsqu’il s’empare de la raison d’une personne au point de lui faire oublier l’essentiel pour le futile et le superficiel. Qui ne s’est jamais vanté de l’achat d’un nouveau véhicule ou du dernier portable à la mode dans le but évident de donner envie ? De parler de choses matérielles devant ceux qui sont démunis ou de se montrer hautain, arrogant méprisant envers des gens jugés moins intelligents ? Si tout cela nous semble évidemment condamnable, il existe une forme d’ostentation en Islam plus sournoise celle qui est de faire preuve d’ostentation dans ses adorations. L’adoration sincère est dédiée uniquement à Allah soubhanou wa ta’ala, elle sera correctement effectuée et contribuera à se rapprocher d’Allah, à purifier son âme de toutes les vilenies de la vie ici-bas. Malheureusement, certains musulmans pratiquent une adoration partagée entre un sentiment sincère d’une part et qui d’autre part est destinée aux regards des autres. Prier quand les autres regardent et négliger ses prières lorsque l’on est seul, être généreux en public mais avare quand personne n’est là pour immortaliser ce moment, réciter le Coran en public mais le délaisser les autres jours, apprendre les préceptes de l’Islam mais ne pas les appliquer… Autant d’attitudes dont ne tire aucun avantage le croyant qui ne fait que satisfaire son ego. Il perd alors la récompense liée à l’acte d’adoration et se met en tort vis-à-vis d’Allah. Le Coran fait mention des hypocrites qui prétendent croire en Allah mais dont les paroles sont sans réel fondement. Le Très-Haut dit … comme celui qui dépense son bien par ostentation devant les gens sans croire en Allâh et au Jour dernier. Il ressemble à un rocher recouvert de terre qu’ une averse l’atteigne, elle le laisse dénué. De pareils hommes ne tirent aucun profit de leurs œuvres. Et Allâh ne guide pas les mécréants ». [Sourate 2, Al-Baqarah, La Vache, verset 264]. Au sujet des hypocrites, Allah dit Les hypocrites cherchent à tromper Allâh, mais Allâh retourne leur tromperie contre eux-mêmes. Et lorsqu’ils se lèvent pour la Prière, ils se lèvent avec paresse et par ostentation envers les gens. À peine invoquent-ils Allâh ». [Sourate 4, An-Nisâ’, Les femmes, verset 142]. Celui qui agit pour plaire aux gens en faisant mine d’adorer Allah soubhanou wa ta’ala verra ses actions dévoilées devant toutes les créatures le jour de la Résurrection, car les actes ne valent que par l’intention.
AGAR kita tidak termasuk ke dalam golongan manusia yang dimurkai Allah SWT. Setiap muslim pasti menghendaki sesuatu yang diridhai, disenangi, atau dicintai Allah SWT. Oleh karena itu, kita dituntut untuk melakukan hal-hal yang membuat Allah cinta dan ridha kepada dalam Al-Qur’an dan hadits, banyak dalil yang menyebutkan perbuatan-perbuatan yang bila dilakukan manusia, maka Allah murka kepadanya. BACA JUGA 3 Macam Kedzaliman Manusia Ada empat golongan manusia yang di murkai Allah SWT Manusia yang di murkai Allah SWT Pedagang yang suka bersumpah Foto Unsplash Dalam dunia perdagangan, sudah lumrah kalau pedagang ingin mendapatkan keuntungan yang besar dengan memberikan harga yang tinggi kepada pembeli, sementara pembeli juga ingin mendapatkan harga yang murah sehingga mengajukan tawaran yang rendah. Untung memang boleh dilakukan, namun kejujuran antara pedagang dan pembeli haruslah diutamakan. Tapi dalam dunia perdagangan sekrang, sangat sedikit, kalau tidak boleh kita sebut tidak ada, pedagang dan pembeli yang jujur. Bahkan ketidakjujuran itu dibingkai juga dengan sumpah palsu dalam rangka memuji barang dagangannya yang membuatnya dianggap pantas dengan dengan harga yang mahal sehingga pembeli menjadi terasa murah. Hal ini membuat pembeli menjadi tambah tertarik dan membelinya. Pedagang seperti ini amat dimurkai oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman وَلَا تَتَّخِذُوْۤا اَيْمَا نَكُمْ دَخَلًاۢ بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌۢ بَعْدَ ثُبُوْتِهَا وَتَذُوْقُوا السُّوْٓءَ بِمَا صَدَدْتُّمْ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۚ وَ لَـكُمْ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ “Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan kakimu tergelincir setelah tegaknya kukuh, dan kamu akan merasakan keburukan di dunia karena kamu menghalangi manusia dari jalan Allah, dan kamu akan mendapat azab yang besar.” QS. An-Nahl [16] 94 Manusia yang di murkai Allah SWT Orang miskin yang sombong Foto Unsplash Hal ini karena kesombongan merupakan sesuatu yang dibenci Allah SWT. Orang kaya yang sombong dengan sebab kekayaannya saja Allah benci, apalagi kalau orang miskin menyombongkan diri dalam soal harta sehingga ia menampakkan dirinya seperti orang kaya dengan penuh kesombongan. Kebencian Allah kepada orang kaya yang sombong itu dikemukakan dalam firman-Nya اِنَّ قَا رُوْنَ كَا نَ مِنْ قَوْمِ مُوْسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْ ۖ وَاٰ تَيْنٰهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَاۤ اِنَّ مَفَا تِحَهٗ لَـتَـنُوْۤاُ بِا لْعُصْبَةِ اُولِى الْقُوَّةِ اِذْ قَا لَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَ تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ “Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ingatlah ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.” QS. Al-Qasas [28] 76 BACA JUGA 3 Perkara yang Dapat Menyelamatkan Manusia dari Siksa Allah SWT Kalau Qarun yang kaya raya tetapi sombong dibenci dan diadzab oleh Allah SWT, apalagi orang miskin yang amat tidak pantas menyombongkan diri. Maka bila ada orang miskin sombong, bisa jadi Allah lebih murka lagi. Tegasnya, tak ada temapt di sisi Allah buat siapapun yang menyombongkan diri. Manusia yang di murkai Allah SWT Orang tua yang berzina Foto Unsplash Zina merupakan perbuatan yang sangat tercela. Di dalam islam, hukuman untuk orang yang berzina itu sangat berat, Allah SWT berfirman اَلزَّا نِيَةُ وَا لزَّا نِيْ فَا جْلِدُوْا كُلَّ وَا حِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَّلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ ۚ وَلْيَشْهَدْ عَذَا بَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ “Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama hukum Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Kemudian; dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.” QS. An-Nur [24] 2 Tercelanya perbuatan zina pada dasarnya berlaku untuk semua kalangan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Namun bagi orang yang tua, dengan usianya yang panjang dan sudah dapat di pastikan semakin dekatnya pada kematian, semestinya ia menjadi orang yang semakin dekat kepada Allah SWT, bertobat kepada-Nya dari segala dosa yang dilakukan, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Oleh karena itu, sangat wajar jika Allah SWT lebih murka kepada orang tua yang berzina ketimbang kepada yang muda karena peluang bertobat kepada yang muda lebih besar ketimbang kepada yang tua. Kalau orang sudah tua, tetapi masih saja melakukan perzinaan, mau kemana lagi arah hidup yang hendak ditempuhnya. Oleh karena itu, Allah SWT murka kepada orang muda yang berzina tetapi lebih murka lagi bila ada orang tua yang berzina. Manusia yang di murkai Allah SWT Penguasa yang dzalim Foto Unsplash Hal ini karena penguasa semestinya menjadi pelayan bagi masyarakat, bukan malah sebaliknya. Dalam perjalanan kehidupan umat manusia, sangat banyak penguasa yang maunya dilayani oleh masyarakat bahkan cenderung menyakiti rakyatnya. Oleh karena itu, manakala ada penguasa dzalim, cepat atau lambat, ia akan tumbang dari kekuasaannya dengan berbagai cara dan sebab. Begitulah memang yang telah tejadi pada Fir’aun yang ditumbangkan oleh anak angkatnya sendiri, yakni Musa Namrud yang ditumbangkan oleh Ibrahim Abu Jahal dan Abu Lahab yang ditumbangkan oleh keponakannya sendiri Nabi Muhammad ﷺ dan penguasa-penguasa yang dzalim lainnya. Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa, kemurkaan dan kecintaan Allah SWT kepda manusia sangat bergantung kepada manusia itu sendiri. Apabila manusia melakukan hal-hal yang Allah senang, Allah akan mencintainya dan bila manusia melakukan hal-hal yang membuat Allah benci, Allah akan murka kepada-Nya.[] Referensi Kumpulan khutbah/Drs. H. Ahmad Yani/Al-Qalam 2013
orang orang yang dimurkai allah